Pengusaha sukses asal Aceh, Teuku Markam kabarnya menjadi salah satu penyumbang emas terbesar untuk salah satu monumen ternama di Indonesia. Monumen itu dikenal dengan nama Monas. Markam dikabarkan menyumbang 28 kg emas untuk pembangunan pucuk Monas yang megah nan mewah tersebut. Sayangnya, kekayaan dan kebaikannya terhadap Negara harus dibayar secara tragis dengan nasibnya kala orde baru berkuasa.

Jagat maya dihebohkan dengan pemberitaan tentang sosok pengusaha sukses asal Aceh, Teuku Markam. Kekayaan yang ia miliki sejak zaman pemerintahan Presiden Soekarno ini membuat dirinya sempat menjadi orang terkaya di Indonesia.

Layaknya anak laki-laki pada umumnya, Markam merupakan sosok yang nakal ketika ia masih berusia anak-anak. Bahkan sosok pengusaha sukses ini pun tidak menyelesaikan masa sekolahnya di bangku sekolah dasar. Ia hanya berhasil mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD.

Laki-laki kelahiran Panton Labu, Aceh Utara, 12 Maret 1924 ini memutuskan untuk masuk Heiho (pembantu tentara) pada zaman Jepang. Dirinya mendapat pangkat setara letnan dua. Kecerdasan dan kemampuannya dalam dunia militer ini ia manfaatkan untuk kepentingan Negara.

Teuku Markam, pengusaha sukses penyumbang 28 kg emas untuk Monas
Teuku Markam, pengusaha sukses penyumbang 28 kg emas untuk Monas

Markam berhasil menyelundupkan senjata kala proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945. Ia menyelundupkan senjata dari Singapura untuk dibawa ke Pekanbaru. Penyelundupannya tersebut pun membuat dirinya diberi pangkat militer.

Pada tahun 1950, ia berhasil menyentuh pangkat kapten dengan NRP 12276. Sayangnya, ia memutuskan untuk hengkang dari dunia militer lantaran berseteru dengan atasannya yang berpangkat mayor. Di tahun 1957 ia pun berhenti dari dunia militer.

Setelah mengenyam dan mengabdi kepada Negara, Markam memutuskan untuk membuka usaha. Ia membuka sebuah pabrik kulit yang diberi nama Karkam. Sejak membuka pabrik kulit tersebut, kekayaan Markam pun kian menambah. Puncaknya saat ia mendapatkan hak eksklusif untuk mengekspor karet ke Malaysia dan Singapura. Tentu saja hal ini terjadi berkat dukungan penuh dari Presiden Soekarno, yang juga menjadi rekan baik Markam.

Baca Juga: Kiat Sukses Dari Seorang Pengusaha, Alexander Benyamin

Sayangnya kesuksesan dan kekayaan Markam habis, kala Presiden Soekarno lengser dan digantikan oleh Presiden Soeharto. Satu per satu harta kekayaan Markam mulai dari mobil, rumah, tanah hingga perusahaannya hilang. Saat itu kekayaan Markam mencapai Rp20 miliar ditambah USD30 juta. Kabarnya harta kekayaan milik Markam dipinjam oleh Negara dan sampai saat ini belum dikembalikan.

Selain harta kekayaannya yang hilang, Markam juga sempat menjalani masa hukuman di penjara selama 9 tahun. Ia diduga menerima Deferred Payment sejak lengsernya Soekarno. Bersama dengan Subandrio, Subur dan Jusuf Muda Dalam, Markam ditangkap dan diadili.

Selepas masa hukuman yang ia jalani selama 9 tahun, Markam kembali meniti usaha. Kali ini Markam mendirikan perusahaan kontraktor bernama PT Marjaya. Tak tanggung-tanggung, ia menjabat sebagai Presiden Komisaris dan mendapat proyek besar berupa pembuatan jalan di Lhokseumawe, Aceh dan Cileungsi, Jawa Barat.

Tahun 1985, Markam tutup usia. Ia wafat lantaran sakit liver dan gula. Sosoknya sebagai pengusaha sukses dengan nasib yang cukup tragis ini pun menyisakan tanda tanya dibenak sejarah Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here