Jenis sedan yang satu ini terbilang masih banyak berseliweran, tak terlalu sulit untuk melihatnya melintas. Keberadaannya berasal dari Korea Selatan, sekitar 45 ribuan unit Timor didatangkan pada dekade 90-an, menyiratkan sedan Timor masih kondang. Bila ditakar sampai saat ini, maka usia Timor sudah mencapai 20 tahun, tapi faktanya nama Timor tak lekang ditelan zaman, sebagai bukti, pasar second Timor masih punya tempat tersendiri, bahkan beberapa pengguna mewujudkan kecintaan pada sedan “Orde Baru” ini lewat pembentukan komunitas.

Baca juga: Ingat “Mas Boy” Onky Alexander, Selalu Terbayang Sosok Sedan BMW 318i E30

Bagi Anda yang besar di dekade 90-an, khususnya pada periode 1995 – 1997, nama Timor yang digawangi PT Timor Putra Nasional (TPN) begitu lekat di hati, lewat promosi di media cetak dan elektronik, sedan ini seolah mampu mem-brandwash keinginan publik, terlebih dengan proteksi pajak, harga bandrol Timor on the road untuk varian tercanggih bias kurang dari Rp40 juta.

Dengan harga yang relatif murah, ditambah spesifikasi dan fitur mumpuni khas sedan Jepang, menjadikan Timor banyak dipilih oleh kalangan muda. Atau pada segmen keluarga menengah ke atas zaman itu, Timor kerap menjadi ‘hadiah’ favorit untuk diberikan kepada sang buah hati sebagai moda untuk lalu lalang dari rumah menuju kampus.

Karena populis di kalangan muda, maka wajar Timor terbilang laris mendapatkan seabreg modifikasi. Di pasaran, Timor tersedia dalam dua tipe yaitu mobil timor DHOC (Double OverHead Cam) dan mobil timor SHOC (Single OverHead Cam). Tentunya setiap tipe memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Banyak kalangan yang menyebut lebih baik DOHC karena lebih powerfull tapi ada juga yang bilang SOHC lebih mudah perawatannya dan lebih menemukan masalah jika ada trouble pada mobil.

Tampil dengan fitur dan spesifikasi handal, serta harga jual miring, semua bisa diperoleh berkat perlakuan khsusus. Ya, hadirnya Timor memang digadang sebagai Mobil Nasional (Mobnas).

Berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 1996 yang menginstruksikan kepada Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Menteri Keuangan, dan Menteri Negara Penggerak Dana Investasi/Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal untuk mewujudkan industri mobil nasional dan bersamaan dengan Inpres Nomor 2 Tahun 1996 menunjuk PT TPN sebagai pionir mobnas.

Nama dibalik PT TPN tak lain adalah pengusaha Tommy Soeharto. Dengan ditunjuknya PT TPN sebagai pionir mobil nasional maka perusahaan tersebut dibebaskan dari bea masuk dan pajak dengan syarat mereka harus menggunakan seratus persen komponen lokal. Dalam tiga tahun pertama, PT TPN diwajibkan memenuhi tingkat kandungan lokal sampai 60 persen.

Manufaktur merek internasional pun bereaksi keras dengan rangkaian proteksi pajak dari pemerintah. Sebagai imbasnya, kasus Timor pun menyeret Indonesia dalam sengketa di WTO.

Dengan infrastruktur yang sedari awal tak siap, ditambah situasi geo politik tak menguntungkan Indonesia, debut mobil lambang kedigdayaan Orde Baru hanya berumur singkat, yakni PT TPN resmi tutup pada 21 Januari 1998, atau empat bulan sebelum Soeharto lengser pada 21 Mei 1998.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here