Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)
Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)

Senin, 19 Oktober 1987 pagi hari yang seharusnya cerah dengan penuh ceria menjadi hari duka penuh air mata bagi penumpang KA255 jurusan Rangkasbitung-Jakarta dan KA220 jurusan Tanah Abang-Merak. Sebuah peristiwa terburuk sepanjang sejarah Kereta Api Indonesia terjadi. Kecelakaan ini pun menjadi kecelakaan terburuk Kereta Api Indonesia yang dikenal dengan Tragedi Bintaro Jilid I.

Tragedi Bintaro Jilid I merupakan salah satu peristiwa yang menorehkan sejarah kelam transportasi Indonesia. Peristiwa ini bukan hanya menjadi sejarah Indonesia saja, berita dunia turut serta menyalurkan berita kecelakaan terburuk sepanjang sejarah Kereta Api Indonesia.

Peristiwa ini bermula ketika KA220 tiba di Stasiun Kebayoran, yang kemudian tertahan beberapa saat karena sesuatu hal. KA220 terhambat, berhenti cukup lama di Stasiun Kemayoran. Sementara itu dari Stasiun Sudimara, KA225 jurusan Rangkasbitung-Jakarta juga baru tiba.

Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)
Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)

Catatan prosedur dari pemberangkatan kedua kereta ini menyebutkan bahwa KA225 harus menunggu KA220 melintas terlebih dahulu. Sayangnya, KA220 tak kunjung melintas. Di saat inilah petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) yakni Jamhari menerima laporan dari petugas PPKA Stasiun Sudimara Umriyadi bahwa KA220 sudah melaju menuju Sudimara.

Jamhari yang menjadi petugas PPKA untuk KA225 itu pun memberikan sinyal bahwa KA225 harus pindah atau langsir di jalur yang berbeda. Sayangnya, masinis dari KA225 salah menafsirkan sinyal yang diberikan Jamhari. Masinis KA225 melaju kencang di atas rel menuju Jakarta.

Kesalahpahaman ini pun terjadi. Jamhari berusaha mengejar kereta yang sudah melaju tersebut. Meniupkan peluit sambil mengibarkan bendera merah. KA225 belum seharusnya melaju dan berangkat. Berbagai upaya dilakukan namun tidak berhasil. Bayang-bayang sebuah kecelakaan pun melekat. KA225 dan KA220 akan mengalami kecelakaan hebat.

Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)
Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)

Kecelakaan itu pun terjadi. KA225 dan KA220 bertabrakan hebat yang tak bisa dihindarkan. Tabrakan itu terjadi di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, tepatnya di dekat tikungan melengkung tol Bintaro, di lengkungan berbentuk huruf ‘S’. Kedua lokomotif itu pun hancur, terguling, ringsek dan menewaskan ratusan nyawa.

Tercatat 150 penumpang tewas dan 300 penumpang lainnya mengalami luka-luka. Berdasarkan catatan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), saat itu KA225 membawa 700 penumpang dan KA220 membawa 500 penumpang. Ketika kecelakaan itu terjadi, KA225 melaju dengan kecepatan 45 km/jam, sedangkan KA200 berkecepatan 25 km/jam.

Duka dan pilu bagi para penumpang kedua lokomotif ini pun bergulir. Proses penyelamatan dan evakuasi dari para korban terjadi sangat lambat. Hal ini disebabkan banyaknya korban yang terhimpit dengan badan kereta, kursi kereta hingga sebagian badan yang sudah hancur.

Slamet Suradio, masinis KA225 yang salah menangkap sinyal pun di nilai bersalah atas kasus kecelakaan hebat ini. Slamet salah tangkap instruksi yang diberikan Jamhari berupa semboyan 46. Slamet Suradio pun menjadi salah satu tersangka yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini.

Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)
Tragedi Bintaro 1987 (Sumber: Tribun)

Bukan hanya Slamet saja, Jamhari, Umriyadi dan Dung Syafei juga didakwa bersalah dalam kasus kecelakaan terburuk sepanjang sejarah Indonesia. Slamet divonis lima tahun penjara, Adung Syafei 2,5 tahun, Umriyadi dan Jamhari masing-masing dihukum 10 bulan penjara. Sayangnya nasib paling buruk pun menimpa Slamet. Bukan hanya dijatuhi hukuman, Slamet turut dipecat pada tahun 1994, serta tidak mendapat uang pensiun sepeser pun. Ia pun memutuskan untuk pulang kampung ke Purworejo.

Tragedi Bintaro 1987 ini menjadi peristiwa kecelakaan terbesar dan terburuk sepanjang sejarah. Kesalahan dari pihak manusia dan garis takdir Tuhan tidak dapat dibendung. Peristiwa ini pun sempat diabadikan pada sebuah film berjudul Tragedi Bintaro, yang disutradarai oleh Buce Malawau. Selain itu, musisi Iwan Fals dan juga Ebiet G Ade mengenang peristiwa tersebut dengan melahirkan karya berjudul 19/10 dan Masih Ada Waktu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here